Tampilkan postingan dengan label Ringan. Tampilkan semua postingan
SEKOMED (Seputar Kota Medan)
Rabu, Februari 11, 2009
Medan_(SEKOMED) Kota Medan (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara. Medan adalah pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba, yang terkenal sebagai tempat wisata, serta Pantai Cermin, yang tekenal dengan pemandangan lautnya dilengkapi dengan waterboom Theme Park.
Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus pada tahun 1590.
Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota, yang saat ini dijabat oleh Drs. H. Afifuddin Lubis, MSi (penjabat walikota Medan). Wilayah Kota Medan kemudian dibagi lagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan.
* Medan Tuntungan
* Medan Johor
* Medan Amplas
* Medan Denai
* Medan Area
* Medan Kota
* Medan Maimun
* Medan Polonia
* Medan Baru
* Medan Selayang
* Medan Sunggal
* Medan Helvetia
* Medan Petisah
* Medan Barat
* Medan Timur
* Medan Perjuangan
* Medan Tembung
* Medan Deli
* Medan Labuhan
* Medan Marelan
* Medan Belawan
Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar (265,10 Km 2 ) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil, tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring keutara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter diatas permukaan laut.
Secara administratif , wilayah kota medan hampir secara keseluruhan berbatasan dengan Daerah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebelah Barat, Selatan dan Timur. Sepanjang wilayah Utara nya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang diketahui merupakan salah satu jalur lalu lintas terpadat di dunia. Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan Sumber Daya alam (SDA), Khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karenanya secara geografis kota Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya Sumber daya alam seperti Deli Serdang , Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu sebagai daerah yang pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Maka Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun kuar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam 2 kutub pertumbuhan secara fisik , yaitu daerah terbangun Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Kota Medan saat ini diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap , sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk commuters. Dengan demikian Kota Medan Merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga memiliki deferensiasi pasar.
Di siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 2,5 juta jiwa dengan dihitungnya jumlah penglaju (komuter). Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur 0-19 dan 20-39 tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk).
Dilihat dari struktur umur penduduk, Kota Medan dihuni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian Kota Medan secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk Kota Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan, dimana tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. sedangkan tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per Km 2 pada tahun 2004. jumlah penduduk paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul kecamatan Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit , terdapat di kecamatan Medan Baru, Medan Maimun dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area dan Medan Timur.
Mayoritas penduduk kota Medan sekarang adalah suku Jawa dan Batak, tetapi di kota ini banyak tinggal pula orang keturunan India dan Tionghoa. Komunitas Tionghoa di Medan cukup besar, sekitar 25% jumlah total.
Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Daerah di sekitar Jalan Zainul Arifin bahkan dikenal sebagai Kampung Madras (Kampung India).
Pada tahun 2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.
Secara historis, pada tahun 1918 tercatat Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya.
Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan), Titi Gantung - sebuah jembatan di atas rel kereta api, dan juga Gedung London Sumatera.
Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan).
Daerah Kesawan yang menyisakan bangunan-bangunan tua (misalnya bangunan PT. London Sumatra) dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya.
Saat ini Pemerintah Kota Medan merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan dengan adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke kota ini.
Di daerah Kesawan ini, terdapat Kantor Notaris/PPAT Hj. Chairani Bustami, S.H. yang merupakan salah satu Notaris tertua di Medan, setelah Alm. A.P. Parlindungan, S.H. Saat ini Hj. Chairani telah pensiun dan aktif mengajar di Universitas Sumatera Utara. Aktivitas kantor ini kemudian digantikan oleh putra-putri beliau yang juga meneruskan profesi orang tuanya sebagai Notaris.
Darat
Di antara terminal yang melayani warga kota Medan adalah:
* Terminal Sambu
* Terminal Pinang Baris, terletak di kecamatan Medan Sunggal.
* Terminal Amplas
Tampak dua becak motor sedang melintas di jalanan Medan.
Keunikan Medan terletak pada becak bermotornya ("becak motor") yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa ("becak dayung"), becak motor dapat membawa penumpangnya ke hampir mana pun di dalam kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus (angkot/"oplet") dan taksi. Becak di Medan berbeda dengan becak di Jakarta ataupun di kota-kota Jawa lainnya. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak seperti di Jawa. Ini memudahkan becak Medan untuk melalui jalan yang berliku-liku. Selain itu, ini juga memungkinkan becak Medan untuk diproduksi dengan harga yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Design ini dikatakan mengambil design dari sepeda motor gandengan perang Jerman di perang dunia ke-2.
Akan tetapi bagi penduduk Medan, sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Angkutan umum ini (Sudako) pada awalnya menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya. Ongkosnya pun relatif murah, yaitu Rp 2.000 per 10 km untuk para pelajar, dan Rp 3.000 per km untuk penumpang umum.
Trayek yang pertama kali bagi sudako ini adalah Lin 01, (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl. Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini Daihatsu S38 500 cc sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia dan berganti dengan mobil-mobil baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther dan Daihatsu Zebra maupun Espass, yang sering disebut Jumbo, karena memuat penumpang lebih banyak. Istilahnya 68 (maksudnya 6 penumpang duduk di bagian kiri, 8 penumpang duduk di bagian kanan).
Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal dari India. Beroda 3 dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama Toyoko. Sekarang, Toyoko pun kabarnya akan digantikan dengan kendaraan baru yaitu Kancil.
Kereta api menghubungkan Medan dengan Tanjungpura di sebelah barat laut, Belawan di sebelah utara, dan Binjai-Tebing Tinggi-Pematang Siantar dan Tebing Tinggi-Kisaran-Rantau Prapat di tenggara.
Jalan tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Lubuk Pakam dan Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.
Laut
Pelabuhan Belawan terletak sekitar 20 km di utara kota.
Udara
Bandara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Banda Aceh , Padang , Pekanbaru , Batam , Palembang , Jakarta , Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alorstar di Malaysia, dan Singapura. Sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang sedang dalam pembangunan.
Stasiun televisi yang ada di Kota Medan antara lain adalah TVRI Medan, Deli TV, Space Toon dan DAAI TV saat ini juga telah mengudara dalam masa percobaan siaran televisi Bahana TV.
Karena memiliki nilai berita yang sangat tinggi, seluruh stasiun TV Swasta nasional memiliki koresponden juga biro di kota Medan. Stasiun TV yang mendirikan biro di kota ini adalah Metro TV dan akan menyusul stasiun TV lainnya. Metro TV bahkan secara khusus menempatkan mobil Satelitte News Gathering (SNG) agar dapat bergerak cepat dan realtime dalam menyiarkan berita dari kota Medan.
Pusat perbelanjaan
* Brastagi Plaza (sebelumnya dikenal dengan nama Mall The Club Store atau "Price Smart")
* Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza (di-merger menjadi satu dan akan segera direnovasi tahun 2008 dengan nama Deli Grand City)
* Grand Palladium
* Hong Kong Plaza - Hotel Soechi
* Macan Group Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah
* Makro
* Plaza Medan Fair
* Medan Mall
* Medan Plaza(Salah satu plaza tertua di Medan. Kendati dekat dengan Plaza Medan Fair namun masih bertahan. Plaza ini berhasil bertahan karena tetap mempertahankan tenant-tenant yang menyediakan beragam barang dan jasa yang ekonomis. Di Plaza ini terdapat grosir besar sepatu dan pakaian yang ekonomis tapi berkualitas)
* Millenium Plaza (pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama Tata Plaza namun akhirnya tutup karena sepi pengunjung. Tahun 1999 Tata Plaza berganti nama menjadi Millenium Plaza. Kali ini berhasil karena plaza ini berani segmented dalam membidik pasar, yakni Pasar Handphone. Millenium Plaza merupakan salah satu pusat penjualan Handphone terbesar dan teramai di luar Pulau Jawa)
* Perisai Plaza (Sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup pelan-pelan. Banyak tennant dan gerai yang hengkang. HIngga saat ini belum diketahui rencana selanjutnya plaza ini)
* Sun Plaza (Salah satu Plaza modern di awal era 2000. Menjadi pionir bagi munculnya plaza dan Mal baru di kota Medan. Plaza ini menjadi tempat ngumpul banyak orang, terutama kaum pelajar.)
* Thamrin Plaza
* Yuki Pasar Raya
* Yuki Simpang Raya
* Yanglim Plaza
* Olympia Plaza Plaza tertua di Medan, bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi sebagai pusat perbelanjaan modern. Olympia Plaza saat ini lebih sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah.
Pasar
* Pusat Pasar (Salah satu Pasar tradisional tua di Medan. Sudah ada sejak zaman kolonial. menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur)
* Pasar Petisah (Mengalami renovasi sejak tahun 2000. Pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasara tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas)
* Pasar Beruang
* Pasar Simpang Limun Salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi trade mark kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap penataan untuk mengatasi kemacetan lalulintas akibat kesibukan pasar ini.
* Pasar Ramai Pasar ini terletak di Jalan Thamrin yg bersebelahan dengan Thamrin Plaza.
* Pasar Simpang Melati Pasar ini terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jalan Pancing. Pasar Simpang Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan (Jumat malam, Sabtu dan Minggu).
* Pasar Ikan LamaMeskipun memiliki nama pasar ikan tetapi nyatanya tidak ada satu ekor ikan pun yang dijual di pasar ini. Pasar ini menjadi pemasaran tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.
Tempat jajan makanan
* Kesawan Square, sejak 16 Nopember 2007 ikon kuliner Medan ini sudah ditutup
* Merdeka Walk
* Deli River Cafe
* Jalan Semarang (Chinese Food)
* Jalan Pagaruyung (Indian Food)
* Ring Road Jalan Gagak Hitam/Setia Budi, pilihan berbagai resto dari mulai fast food (KFC, McD), jagung bakar (malam hari) dan aneka makanan Indonesia (bakso, sate, ayam penyet, nasi uduk dll) di sepanjang jalan
* Jalan Dr. Mansyur/kampus USU, pilihan berbagai cafe yang menawarkan beragam hidangan (Indonesia, Western, Chinese Food, dll) dengan design unik di masing-masing cafe
Olah raga
Beberapa klub olah raga yang terdapat di Medan antara lain PSMS Medan (sepak bola), Medan Jaya (sepak bola) dan Angsapura Sania (basket). Gelanggang olah raga yang terdapat di Medan antara lain Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga dan GOR Angsapura.
(gias)
Majalah Sobek Untuk Tugas Kliping
Selasa, Februari 10, 2009Taman Bacaan yang bertetangga dengan Rumah Billiard
Medan _ (SEKOMED) Pernah dengar istilah “majalah sobek” kan..? Majalah yang isi halamannya disobek lalu dijual. Ini lah salah satu yang laris dibeli pelajar di Taman Bacaan Desa Medan Estate.
Majalah sobek sering dicari anak sekolah, umumnya yang sedang mengerjakan tugas kliping. Majalah sobek memudahkan pelajar dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Proses pembeliannya terbilang unik, karena pembeli terlebih dahulu memilih topik yang dicari dengan melihat rubrik yang ada dihalaman depan majalah. Setelah ditemukan, halaman yang berisikan topik yang dicari disobek, kemudian dibeli. Perlembarnya dijual pak Charles Rp.500-,00. “Contohnya, kamu mencari topik tentang lingkungan di Majalah Tempo. Lihat di daftar isi, yang halaman 96 ini mengenai lingkungan. Lalu kamu baca. Kalau cocok, kamu sobek halamannya,” jelas pak Charles kepada wartawan.
Selain majalah sobek, majalah bekas, tabloid, Koran bekas dan novel termasuk yang paling banyak dicari pengunjung. Untuk tabloid dan Koran bekas diberi harga rata-rata Rp.1000-,00. Sedangkan majalah bekas dan novel dihargai rata-rata Rp.15.000 – Rp. 20.000-,00. Namun untuk buku pelajaran, khususnya buku sejarah dan buku budaya masih sangat minim karena belum ada pemasok yang tetap. Ketika ditanya mengenai bantuan buku oleh pemerintah, pria berkumis tebal ini mengatakan belum mengajukan proposal kepada pemerintah. Selain minimnya buku bacaan, di taman bacaan, buku masih hanya bisa dibaca di tempat, pak Charles belum menyediakan jasa sewa buku dikarenakan kurangnya tenaga bantu.
Taman Bacaan Desa Medan Estate dibangun oleh pak Charles pada Januari 2008 yang lalu di jalan Selamat Ketaren. Letaknya, di sekitar Universitas Medan (UNIMED). Lebih tepatnya lagi diantara beberapa warung nasi dan rumah billiard yang berada di sisi sebelah kanan kampus UNIMED. Niatnya ini bermula atas keprihatinannya terhadap pelajar-pelajar yang tidak mampu membeli buku. “Karena tidak semua orang mampu membeli buku, makanya saya buka taman bacaan ini. Lagipula anak-anak sekolah dan mahasiswa di sekitar sini banyak yang senang membaca”.
Taman bacaan ini terlihat berantakan pada pagi itu. Kebetulan pemiliknya sedang memperbaiki pintu masuk yang sudah lapuk. Belum ada pengunjung pada saat itu. Hanya saja seorang guru sedang membeli buku pelajaran di toko yang juga milik pak Charles yang berada samping taman bacaan. Bu Riama Sirait, guru Biologi SMA 1 Percut membeli 4 buku Biologi terbitan Erlangga untuk dua orang anaknya. Dia sudah tiga tahun lamanya berlangganan di toko yang diberi nama Dorris ini. Bu Riama menceritakan, pernah suatu hari ia mengajak semua murid kelas X-1 sampai X-VII membaca dan membeli buku di sini. “Saat itu waktu pulang sekolah, semua murid saya ajak kemari.”
Taman bacaan yang berdindingkan papan dan beratapkan seng ini bertetangga dengan rumah-rumah billiard di sekitarnya. Suara-suara house musik dangdut menembus dinding-dinding papan taman bacaan. Ditambah lagi suara pukulan dan gulingan bola billiard menambah gaduh suasana. Namun menurut pak Charles, hal ini tidak menyurutkan minat baca pengunjung.
(ipan)
Medan _ (SEKOMED) Pernah dengar istilah “majalah sobek” kan..? Majalah yang isi halamannya disobek lalu dijual. Ini lah salah satu yang laris dibeli pelajar di Taman Bacaan Desa Medan Estate.
Majalah sobek sering dicari anak sekolah, umumnya yang sedang mengerjakan tugas kliping. Majalah sobek memudahkan pelajar dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Proses pembeliannya terbilang unik, karena pembeli terlebih dahulu memilih topik yang dicari dengan melihat rubrik yang ada dihalaman depan majalah. Setelah ditemukan, halaman yang berisikan topik yang dicari disobek, kemudian dibeli. Perlembarnya dijual pak Charles Rp.500-,00. “Contohnya, kamu mencari topik tentang lingkungan di Majalah Tempo. Lihat di daftar isi, yang halaman 96 ini mengenai lingkungan. Lalu kamu baca. Kalau cocok, kamu sobek halamannya,” jelas pak Charles kepada wartawan.
Selain majalah sobek, majalah bekas, tabloid, Koran bekas dan novel termasuk yang paling banyak dicari pengunjung. Untuk tabloid dan Koran bekas diberi harga rata-rata Rp.1000-,00. Sedangkan majalah bekas dan novel dihargai rata-rata Rp.15.000 – Rp. 20.000-,00. Namun untuk buku pelajaran, khususnya buku sejarah dan buku budaya masih sangat minim karena belum ada pemasok yang tetap. Ketika ditanya mengenai bantuan buku oleh pemerintah, pria berkumis tebal ini mengatakan belum mengajukan proposal kepada pemerintah. Selain minimnya buku bacaan, di taman bacaan, buku masih hanya bisa dibaca di tempat, pak Charles belum menyediakan jasa sewa buku dikarenakan kurangnya tenaga bantu.
Taman Bacaan Desa Medan Estate dibangun oleh pak Charles pada Januari 2008 yang lalu di jalan Selamat Ketaren. Letaknya, di sekitar Universitas Medan (UNIMED). Lebih tepatnya lagi diantara beberapa warung nasi dan rumah billiard yang berada di sisi sebelah kanan kampus UNIMED. Niatnya ini bermula atas keprihatinannya terhadap pelajar-pelajar yang tidak mampu membeli buku. “Karena tidak semua orang mampu membeli buku, makanya saya buka taman bacaan ini. Lagipula anak-anak sekolah dan mahasiswa di sekitar sini banyak yang senang membaca”.
Taman bacaan ini terlihat berantakan pada pagi itu. Kebetulan pemiliknya sedang memperbaiki pintu masuk yang sudah lapuk. Belum ada pengunjung pada saat itu. Hanya saja seorang guru sedang membeli buku pelajaran di toko yang juga milik pak Charles yang berada samping taman bacaan. Bu Riama Sirait, guru Biologi SMA 1 Percut membeli 4 buku Biologi terbitan Erlangga untuk dua orang anaknya. Dia sudah tiga tahun lamanya berlangganan di toko yang diberi nama Dorris ini. Bu Riama menceritakan, pernah suatu hari ia mengajak semua murid kelas X-1 sampai X-VII membaca dan membeli buku di sini. “Saat itu waktu pulang sekolah, semua murid saya ajak kemari.”
Taman bacaan yang berdindingkan papan dan beratapkan seng ini bertetangga dengan rumah-rumah billiard di sekitarnya. Suara-suara house musik dangdut menembus dinding-dinding papan taman bacaan. Ditambah lagi suara pukulan dan gulingan bola billiard menambah gaduh suasana. Namun menurut pak Charles, hal ini tidak menyurutkan minat baca pengunjung.
(ipan)
Kios Bang Sembiring, Walau Kecil Tidak Kalah Lengkap Dengan yang Lain
Selasa, Februari 10, 2009MEDAN _ (SEKOMED) Di antara kios-kios yang ada di jalan Pancing khususnya yang menjual seragam tim sepak bola, ada satu kios kecil yang terletak di samping pintu masuk gedung bekas kantor Gubsu. Walaupun lebih kecil dari kios-kios lain, kios ini cukup lengkap menyediakan berbagai kostum tim sepak bola baik tim nasional maupun klub dari liga internasional dan liga lokal.
“Memang kios aku kecil, tapi kalau dibandingkan dengan kios lain soal kelengkapan aku gak kalah sama yang lain,” ujar si pemilik kios, Sembiring. Pria yang akrab dipanggil bang Sembiring ini mengatakan ia juga melayani pembelian dalam jumlah besar. “Kalau ada yang mau beli banyak, biasanya si pembeli pesan dulu. Misalnya hari ini dia datang, besok baru ada barangnya, karena aku gak bawa banyak barang ke sini. Mengingat kios ku kan kecil, ” jelas pria asal Berastagi ini.
Bang Sembiring mengaku baru 8 bulan berdagang seragam sepak bola di jalan Pancing tersebut. Biasanya dalam satu hari ia mendapat sekitar Rp 200.000. Namun pada waktu-waktu tertentu ia bisa mengumpulkan sampai Rp 700.000 per harinya. “Biasanya dapat Rp 200.000 satu harinya, tapi kalau pas ada even-even besar kayak Piala Dunia atau Piala Eropa, aku bisa dapat sampai Rp 700.000,” ungkapnya.
Bang Sembiring mengatakan pembelinya kebanyakan dari kalangan pelajar. Salah seorang pelajar SMA yang sedang melihat-lihat baju tim sepak bola di kios bang Sembiring bernama Rudi, mengaku sering membeli seragam sepak bola di situ. “Di sini harganya murah, ya pandai-pandai kita menawar lah. Bang Sembiring pun ramah sama pembeli, jadinya kan enak kita membeli,” ungkap pelajar kelas 3 ini. “Kalau di tempat lain harga matinya 25 ribu, di sini bisa 20 ribu untuk baju yang sama,” tambahnya. (gias)
“Memang kios aku kecil, tapi kalau dibandingkan dengan kios lain soal kelengkapan aku gak kalah sama yang lain,” ujar si pemilik kios, Sembiring. Pria yang akrab dipanggil bang Sembiring ini mengatakan ia juga melayani pembelian dalam jumlah besar. “Kalau ada yang mau beli banyak, biasanya si pembeli pesan dulu. Misalnya hari ini dia datang, besok baru ada barangnya, karena aku gak bawa banyak barang ke sini. Mengingat kios ku kan kecil, ” jelas pria asal Berastagi ini.
Bang Sembiring mengaku baru 8 bulan berdagang seragam sepak bola di jalan Pancing tersebut. Biasanya dalam satu hari ia mendapat sekitar Rp 200.000. Namun pada waktu-waktu tertentu ia bisa mengumpulkan sampai Rp 700.000 per harinya. “Biasanya dapat Rp 200.000 satu harinya, tapi kalau pas ada even-even besar kayak Piala Dunia atau Piala Eropa, aku bisa dapat sampai Rp 700.000,” ungkapnya.
Bang Sembiring mengatakan pembelinya kebanyakan dari kalangan pelajar. Salah seorang pelajar SMA yang sedang melihat-lihat baju tim sepak bola di kios bang Sembiring bernama Rudi, mengaku sering membeli seragam sepak bola di situ. “Di sini harganya murah, ya pandai-pandai kita menawar lah. Bang Sembiring pun ramah sama pembeli, jadinya kan enak kita membeli,” ungkap pelajar kelas 3 ini. “Kalau di tempat lain harga matinya 25 ribu, di sini bisa 20 ribu untuk baju yang sama,” tambahnya. (gias)
Ongkos Belum Turun Penumpang Cuek
Selasa, Februari 10, 2009MEDAN _ (SEKOMED) Penurunan tarif angkutan umum di kota Medan sampai saat ini belum menyeluruh, masih banyak supir angkutan umum yang tetap menggunakan tarif lama sebelum harga BBM turun, dan masih banyak pula pengguna jasa angkutan umum yang tidak peduli akan hal itu.
Seorang supir angkutan umum trayek Belawan-Hamparan Perak Adek (25), mengatakan kalau tarif ongkos masih seperti biasa. “Memang ongkos masih macam dulu kubuat, lagian gak ada disuruh tokeh turunkan ongkos, tapi kalau penumpangnya minta kembalian ya kukasi juga, tergantung sewa aja, kadang ada juga sewa yang pengertian.” Ujarnya. Pria beranak satu ini terkesan tidak begitu peduli dengan penurunan tarif angkutan umum. Baginya sah-sah saja selagi tidak ada yang merasa dirugikan.
Namun sayangnya belum turunnya tarif ini disikapi dengan santai saja oleh sebagian masyarakat. Seolah mereka tidak merasa dirugikan dalam hal ini. Seorang guru Sekolah Dasar di Labuhan Muhibbah (50), mengaku tetap memberi ongkos seperti sebelum harga BBM turun. “Saya masih bayar Rp4.000 dari titi payung ke Simpang Kantor, tapi terkadang kalau saya bayar Rp3.500 supirnya diam aja,” kata ibu berjilbab ini. “Kalau memang ongkos turun, Seharusnya di setiap angkot ditempel pengumuman penurunan tarif, jadi sewa tahu berapa yang seharusnya dibayar,” sarannya.
“Malas saya minta kembaliannya, karena sudah biasa bayar Rp3.000,” ujar seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri di Medan Wina (20). Wanita yang sehari-harinya naik angkutan umum dari K. Lalang ke Jl. Setia Budi ini mengaku tidak terlalu ambil pusing masalah ongkos.
Seharusnya penurunan tarif angkutan umum ini betul-betul dilaksanakan oleh semua unit angkutan umum secara menyeluruh. Tentunya hal ini akan terlaksana dengan adanya kesadaran dari setiap elemen yang terkait di dalamnya, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa angkutan umum, jangan bersikap acuh tak tak acuh seolah merasa tidak dirugikan dengan tarif angkutan umum yang tidak diturunkan. (munir)
Seorang supir angkutan umum trayek Belawan-Hamparan Perak Adek (25), mengatakan kalau tarif ongkos masih seperti biasa. “Memang ongkos masih macam dulu kubuat, lagian gak ada disuruh tokeh turunkan ongkos, tapi kalau penumpangnya minta kembalian ya kukasi juga, tergantung sewa aja, kadang ada juga sewa yang pengertian.” Ujarnya. Pria beranak satu ini terkesan tidak begitu peduli dengan penurunan tarif angkutan umum. Baginya sah-sah saja selagi tidak ada yang merasa dirugikan.
Namun sayangnya belum turunnya tarif ini disikapi dengan santai saja oleh sebagian masyarakat. Seolah mereka tidak merasa dirugikan dalam hal ini. Seorang guru Sekolah Dasar di Labuhan Muhibbah (50), mengaku tetap memberi ongkos seperti sebelum harga BBM turun. “Saya masih bayar Rp4.000 dari titi payung ke Simpang Kantor, tapi terkadang kalau saya bayar Rp3.500 supirnya diam aja,” kata ibu berjilbab ini. “Kalau memang ongkos turun, Seharusnya di setiap angkot ditempel pengumuman penurunan tarif, jadi sewa tahu berapa yang seharusnya dibayar,” sarannya.
“Malas saya minta kembaliannya, karena sudah biasa bayar Rp3.000,” ujar seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri di Medan Wina (20). Wanita yang sehari-harinya naik angkutan umum dari K. Lalang ke Jl. Setia Budi ini mengaku tidak terlalu ambil pusing masalah ongkos.
Seharusnya penurunan tarif angkutan umum ini betul-betul dilaksanakan oleh semua unit angkutan umum secara menyeluruh. Tentunya hal ini akan terlaksana dengan adanya kesadaran dari setiap elemen yang terkait di dalamnya, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa angkutan umum, jangan bersikap acuh tak tak acuh seolah merasa tidak dirugikan dengan tarif angkutan umum yang tidak diturunkan. (munir)
Jelang UAN Pasar Buku Ramai dikunjungi Pelajar
Selasa, Februari 10, 2009MEDAN _ (SEKOMED) Pasar Buku di area Lapangan Merdeka Medan sekarang ini sedang ramai dikunjungi oleh anak-anak sekolah SD, SMP, dan SMA, khususnya yang sudah kelas 3 di masing-masing tingkatan.
Hal itu dikarenakan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir nasional (UAN). Salah seorang pedagang buku di lokasi itu bernama Manik mengatakan, buku-buku pendidikan seperti buku panduan UAN, sifatnya musiman. Artinya, buku-buku tersebut ada pada waktu tertentu. “ Kalau buku UAN, biasanya ada bulan-bulan sekarang inilah,” jelas ibu 3 orang anak ini.
“Disini harga buku UAN gak semahal di toko-toko buku kayak gramedia. Padahal dari penerbit yang sama,” ujar seorang siswa kelas 3 SMA bernama Soraya. “Saya juga nyari novel bang, disini juga murah,” tambah gadis yang biasa dipanggil Aya ini.
Bu Manik mengatakan, selain buku-buku UAN, banyak juga pelajar yang mencari novel yang sedang popular saat ini. “Sekarang ini novel yang laris itu seperti novel trilogi Laskar Pelangi,” jelasnya. Ia mengungkapkan dalam satu harinya, ia dapat menjual lebih dari 50 buah novel.
Kios buku bu Manik, begitu sapaannya, terlihat berbeda dari kios-kios lain. Kios bukunya terdapat kelompok-kelompok buku sesuai harganya masing-masing. “Saya dapat ide untuk mengkelompokan buku-buku ini, agar pembeli lebih gampang memilih buku yang diinginkan. Juga supaya saya gak capek menjelaskan harganya kepada pembeli,” jelas wanita berkaca mata itu. Bu Manik mengatakan ia menyewa kios di pasar buah dengan ongkos sewa sebesar Rp 3 juta per 3 tahun
Selain itu, bu Manik juga memberikan discount sebesar 20 % untuk jenis buku komputer dan ia memberikan hadiah buku komik sebesar Rp. 50.000 bagi setiap pembelian buku komputer sebesar Rp. 100.000.
Bu Manik mengaku baru 3 tahun menjadi pedagang buku. Dengan berprofesi sebagai pedagang buku, keuntungan yang dihasilkan dapat mencapai Rp15 juta per bulan. Bu Manik mulai berjualan pukul 10.30 WIB sampai pukul 06.00 WIB setiap hari Senin – Sabtu. Sementara pada hari Minggu ia gunakan waktu luang untuk beribadah di Gereja dan berkumpul bersama anggota keluarga. (gias)
Hal itu dikarenakan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir nasional (UAN). Salah seorang pedagang buku di lokasi itu bernama Manik mengatakan, buku-buku pendidikan seperti buku panduan UAN, sifatnya musiman. Artinya, buku-buku tersebut ada pada waktu tertentu. “ Kalau buku UAN, biasanya ada bulan-bulan sekarang inilah,” jelas ibu 3 orang anak ini.
“Disini harga buku UAN gak semahal di toko-toko buku kayak gramedia. Padahal dari penerbit yang sama,” ujar seorang siswa kelas 3 SMA bernama Soraya. “Saya juga nyari novel bang, disini juga murah,” tambah gadis yang biasa dipanggil Aya ini.
Bu Manik mengatakan, selain buku-buku UAN, banyak juga pelajar yang mencari novel yang sedang popular saat ini. “Sekarang ini novel yang laris itu seperti novel trilogi Laskar Pelangi,” jelasnya. Ia mengungkapkan dalam satu harinya, ia dapat menjual lebih dari 50 buah novel.
Kios buku bu Manik, begitu sapaannya, terlihat berbeda dari kios-kios lain. Kios bukunya terdapat kelompok-kelompok buku sesuai harganya masing-masing. “Saya dapat ide untuk mengkelompokan buku-buku ini, agar pembeli lebih gampang memilih buku yang diinginkan. Juga supaya saya gak capek menjelaskan harganya kepada pembeli,” jelas wanita berkaca mata itu. Bu Manik mengatakan ia menyewa kios di pasar buah dengan ongkos sewa sebesar Rp 3 juta per 3 tahun
Selain itu, bu Manik juga memberikan discount sebesar 20 % untuk jenis buku komputer dan ia memberikan hadiah buku komik sebesar Rp. 50.000 bagi setiap pembelian buku komputer sebesar Rp. 100.000.
Bu Manik mengaku baru 3 tahun menjadi pedagang buku. Dengan berprofesi sebagai pedagang buku, keuntungan yang dihasilkan dapat mencapai Rp15 juta per bulan. Bu Manik mulai berjualan pukul 10.30 WIB sampai pukul 06.00 WIB setiap hari Senin – Sabtu. Sementara pada hari Minggu ia gunakan waktu luang untuk beribadah di Gereja dan berkumpul bersama anggota keluarga. (gias)
Buku Bacaan, Langganan Pelajar dan Kaum Ibu di Pajus
Selasa, Februari 10, 2009Medan _ (SEKOMED) Pajak USU atau disingkat dengan Pajus adalah sebuah lokasi penjualan yang terdapat di dalam areal kampus Universitas Sumatra Utara (USU). Lebih tepatnya lokasi ini berada diantara tiga bangunan, yakni di samping Fakultas Hukum dan Perpustakaan dan tepat berada di belakang Fakultas Ekonomi.
Di dalam Pajus terdapat beraneka ragam dagangan, seperti menjual tas, sepatu, buku, CD, pernak-pernik, dan masih banyak lainnya. Awalnya, Pengunjung Pajus hanyalah mahasiswa USU sendiri. Belakangan, karena tersedia beraneka ragam dagangan di dalamnya memancing rasa ingin tahu masyarakat untuk mengunjungi tempat itu. Tidak heran bila sekarang kita lihat disana juga menjual baju, assesoris computer, dan benda-benda yang umumnya dijual di pasar-pasar.
Toko buku Hutapea adalah salah satu diantara sekian banyak tempat jualan yang ada disana. Bentuknya memang tidak layak untuk disebut sebagai toko, namun untuk memudahkan pengucapannya, bisa saja disebut sebagai toko.
Nama Hutapea adalah nama sang pemilik toko ini. Panjang dan lebar toko ini berkisar 3x5m. Toko yang beralaskan semen kasar dan berdinding teriplek ini menjual aneka ragam buku bacaan, mulai dari buku-buku pelajaran, Novel, Komik, Majalah, dan juga Tabloid. Sang pemilik toko, Hutapea, memperoleh buku-buku tersebut dari temannya yang berada di Jakarta, walaupun sebagian ada yang dibeli dari toko buku Gramedia Medan.
Buku-buku yang disediakan dijual dengan harga yang lebih murah dari harga toko. Ini dikarena buku-buku tersebut diperolehnya dari penjualan buku yang tidak laku habis dipasaran. Untuk harga satuan komik, yang paling mahal berkisar Rp. 7000. Sedangkan novel-novel terkenal dijualnya dengan kisaran harga Rp.20.000 – Rp. 40.000.
Pembeli buku, umumnya adalah mahasiswa dan pelajar yang sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah, namun ada juga kaum ibu yang membeli buku bacaan untuk anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).
Hutapea memulai usahanya mulai dari pukul 09.00 – 18.00 WIB. Ia sudah 2 tahun lamanya berjualan di Pajus. Lahan ataupun toko yang disewanya ini perbulannya Rp. 800.000. itu pun melalui pihak kedua yang mengelola Pajus, yakni Elena. Sedangkan pihak pertama adalah pemilik kampus sendiri.
“Saya memulai usaha ini pada Oktober 2006 lalu. saya menyewanya dengan harga Rp. 800.000,” jawab Hutapea saat ditanya wartawan kemarin. “Pembeli yang sering datang adalah mahasiswa dan anak sekolah. mereka senang beli di sini karena kami menuntun mereka dalam memilih buku yang tepat,” tambahnya.
Vivi, salah satu pelanggan buku yang juga mahasiswa Fakultas Sastra China USU mengatakan sering membeli majalah di sini. Alasannya memilih beli buku di sini karena serba ada. “saya baru membeli majalah. Di sini serba ada, makanya saya tertarik tuk beli di sini.”
(ipan)
Di dalam Pajus terdapat beraneka ragam dagangan, seperti menjual tas, sepatu, buku, CD, pernak-pernik, dan masih banyak lainnya. Awalnya, Pengunjung Pajus hanyalah mahasiswa USU sendiri. Belakangan, karena tersedia beraneka ragam dagangan di dalamnya memancing rasa ingin tahu masyarakat untuk mengunjungi tempat itu. Tidak heran bila sekarang kita lihat disana juga menjual baju, assesoris computer, dan benda-benda yang umumnya dijual di pasar-pasar.
Toko buku Hutapea adalah salah satu diantara sekian banyak tempat jualan yang ada disana. Bentuknya memang tidak layak untuk disebut sebagai toko, namun untuk memudahkan pengucapannya, bisa saja disebut sebagai toko.
Nama Hutapea adalah nama sang pemilik toko ini. Panjang dan lebar toko ini berkisar 3x5m. Toko yang beralaskan semen kasar dan berdinding teriplek ini menjual aneka ragam buku bacaan, mulai dari buku-buku pelajaran, Novel, Komik, Majalah, dan juga Tabloid. Sang pemilik toko, Hutapea, memperoleh buku-buku tersebut dari temannya yang berada di Jakarta, walaupun sebagian ada yang dibeli dari toko buku Gramedia Medan.
Buku-buku yang disediakan dijual dengan harga yang lebih murah dari harga toko. Ini dikarena buku-buku tersebut diperolehnya dari penjualan buku yang tidak laku habis dipasaran. Untuk harga satuan komik, yang paling mahal berkisar Rp. 7000. Sedangkan novel-novel terkenal dijualnya dengan kisaran harga Rp.20.000 – Rp. 40.000.
Pembeli buku, umumnya adalah mahasiswa dan pelajar yang sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah, namun ada juga kaum ibu yang membeli buku bacaan untuk anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).
Hutapea memulai usahanya mulai dari pukul 09.00 – 18.00 WIB. Ia sudah 2 tahun lamanya berjualan di Pajus. Lahan ataupun toko yang disewanya ini perbulannya Rp. 800.000. itu pun melalui pihak kedua yang mengelola Pajus, yakni Elena. Sedangkan pihak pertama adalah pemilik kampus sendiri.
“Saya memulai usaha ini pada Oktober 2006 lalu. saya menyewanya dengan harga Rp. 800.000,” jawab Hutapea saat ditanya wartawan kemarin. “Pembeli yang sering datang adalah mahasiswa dan anak sekolah. mereka senang beli di sini karena kami menuntun mereka dalam memilih buku yang tepat,” tambahnya.
Vivi, salah satu pelanggan buku yang juga mahasiswa Fakultas Sastra China USU mengatakan sering membeli majalah di sini. Alasannya memilih beli buku di sini karena serba ada. “saya baru membeli majalah. Di sini serba ada, makanya saya tertarik tuk beli di sini.”
(ipan)
Lelang Sepeda Motor Berbagai Kondisi di Deli Plaza
Selasa, Februari 10, 2009Medan _ (SEKOMED) PT. ALTO LELANG menyelenggarakan lelang sepeda motor di area parkir Deli Plaza Medan pada tanggal 25 – 28 Januari 2008 lalu. Open House dilakukan pada tanggal 25 – 27 Januari, dan pada tanggal 28 Januari dilaksanakan acara pelelangan. Sepeda motor yang dilelang dalam berbagai kondisi dan sebagian besar berjenis bebek.
Indra, 28, seorang pengawas penjualan dalam pelelangan tersebut, mengatakan seluruh sepeda motor yang berjumlah 408 unit, berasal dari perusahaan kredit WOM Finance di daerah KIM, Binjai, dan Lubuk Pakam. Indra juga mengatakan, acara pelelangan yang baru pertama kali diadakan di Medan ini, mendapatkan perhatian yang cukup besar dari warga Medan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya unit yang terjual. “Dari 408 unit, sisa hanya sekitar 30-an unit,” jelas Indra.
Dengan harga awal yang ditetapkan mulai dari Rp. 1.050.000 sampai Rp. 6.500.000, calon pembeli memberikan penawarannya terhadap sepeda motor yang diinginkan. Dan pembeli dengan penawaran tertinggi yang mendapatkan sepeda motor tersebut. Indra juga mengatakan, bila dalam pelelangan sebuah sepeda motor hanya terdapat satu orang peminat, maka harga yang diberikan adalah harga awal yang tertera di sepeda motor itu.
Saat ini masih banyak pengunjung yang datang ke lokasi pelelangan karena tidak mengetahui kalau pelelangan sudah berakhir. Jo, 21, adalah salah satu pengunjung yang tidak tahu pelelangan sudah berakhir mengatakan, bahwa dia diberitahukan oleh temannya, ada pelelangan kereta di Deli Plaza. “Aku cuma tengok-tengok aja, kata kawanku ada kereta murah di sini, mana tau ada yang bagus. Tapi rupanya udah habis lelangnya,” ujar mahasiswa USU ini. Banyaknya peminat pada acara pelelangan tersebut, membuat PT. AUTO LELANG berencana mengadakan acara pelelangan yang kedua. “Kemungkinan besar pertengahan atau akhir bulan dua ini akan diadakan lagi, ya doakan aja lah,” ungkap Indra. (Gias)
Indra, 28, seorang pengawas penjualan dalam pelelangan tersebut, mengatakan seluruh sepeda motor yang berjumlah 408 unit, berasal dari perusahaan kredit WOM Finance di daerah KIM, Binjai, dan Lubuk Pakam. Indra juga mengatakan, acara pelelangan yang baru pertama kali diadakan di Medan ini, mendapatkan perhatian yang cukup besar dari warga Medan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya unit yang terjual. “Dari 408 unit, sisa hanya sekitar 30-an unit,” jelas Indra.
Dengan harga awal yang ditetapkan mulai dari Rp. 1.050.000 sampai Rp. 6.500.000, calon pembeli memberikan penawarannya terhadap sepeda motor yang diinginkan. Dan pembeli dengan penawaran tertinggi yang mendapatkan sepeda motor tersebut. Indra juga mengatakan, bila dalam pelelangan sebuah sepeda motor hanya terdapat satu orang peminat, maka harga yang diberikan adalah harga awal yang tertera di sepeda motor itu.
Saat ini masih banyak pengunjung yang datang ke lokasi pelelangan karena tidak mengetahui kalau pelelangan sudah berakhir. Jo, 21, adalah salah satu pengunjung yang tidak tahu pelelangan sudah berakhir mengatakan, bahwa dia diberitahukan oleh temannya, ada pelelangan kereta di Deli Plaza. “Aku cuma tengok-tengok aja, kata kawanku ada kereta murah di sini, mana tau ada yang bagus. Tapi rupanya udah habis lelangnya,” ujar mahasiswa USU ini. Banyaknya peminat pada acara pelelangan tersebut, membuat PT. AUTO LELANG berencana mengadakan acara pelelangan yang kedua. “Kemungkinan besar pertengahan atau akhir bulan dua ini akan diadakan lagi, ya doakan aja lah,” ungkap Indra. (Gias)
