SEKOMED: Seputar Kota Medan

SEKOMED (Seputar Kota Medan)

Rabu, Februari 11, 2009

Medan_(SEKOMED) Kota Medan (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara. Medan adalah pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba, yang terkenal sebagai tempat wisata, serta Pantai Cermin, yang tekenal dengan pemandangan lautnya dilengkapi dengan waterboom Theme Park.

Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus pada tahun 1590.

Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota, yang saat ini dijabat oleh Drs. H. Afifuddin Lubis, MSi (penjabat walikota Medan). Wilayah Kota Medan kemudian dibagi lagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan.

* Medan Tuntungan
* Medan Johor
* Medan Amplas
* Medan Denai
* Medan Area
* Medan Kota
* Medan Maimun
* Medan Polonia
* Medan Baru
* Medan Selayang
* Medan Sunggal
* Medan Helvetia
* Medan Petisah
* Medan Barat
* Medan Timur
* Medan Perjuangan
* Medan Tembung
* Medan Deli
* Medan Labuhan
* Medan Marelan
* Medan Belawan

Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar (265,10 Km 2 ) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil, tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring keutara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter diatas permukaan laut.

Secara administratif , wilayah kota medan hampir secara keseluruhan berbatasan dengan Daerah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebelah Barat, Selatan dan Timur. Sepanjang wilayah Utara nya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang diketahui merupakan salah satu jalur lalu lintas terpadat di dunia. Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan Sumber Daya alam (SDA), Khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karenanya secara geografis kota Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya Sumber daya alam seperti Deli Serdang , Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.

Di samping itu sebagai daerah yang pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Maka Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun kuar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam 2 kutub pertumbuhan secara fisik , yaitu daerah terbangun Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Kota Medan saat ini diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap , sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk commuters. Dengan demikian Kota Medan Merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga memiliki deferensiasi pasar.

Di siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 2,5 juta jiwa dengan dihitungnya jumlah penglaju (komuter). Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur 0-19 dan 20-39 tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk).

Dilihat dari struktur umur penduduk, Kota Medan dihuni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian Kota Medan secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.

Laju pertumbuhan penduduk Kota Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan, dimana tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. sedangkan tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per Km 2 pada tahun 2004. jumlah penduduk paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul kecamatan Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit , terdapat di kecamatan Medan Baru, Medan Maimun dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area dan Medan Timur.

Mayoritas penduduk kota Medan sekarang adalah suku Jawa dan Batak, tetapi di kota ini banyak tinggal pula orang keturunan India dan Tionghoa. Komunitas Tionghoa di Medan cukup besar, sekitar 25% jumlah total.

Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Daerah di sekitar Jalan Zainul Arifin bahkan dikenal sebagai Kampung Madras (Kampung India).

Pada tahun 2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.

Secara historis, pada tahun 1918 tercatat Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya.

Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan), Titi Gantung - sebuah jembatan di atas rel kereta api, dan juga Gedung London Sumatera.

Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan).

Daerah Kesawan yang menyisakan bangunan-bangunan tua (misalnya bangunan PT. London Sumatra) dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya.

Saat ini Pemerintah Kota Medan merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan dengan adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke kota ini.

Di daerah Kesawan ini, terdapat Kantor Notaris/PPAT Hj. Chairani Bustami, S.H. yang merupakan salah satu Notaris tertua di Medan, setelah Alm. A.P. Parlindungan, S.H. Saat ini Hj. Chairani telah pensiun dan aktif mengajar di Universitas Sumatera Utara. Aktivitas kantor ini kemudian digantikan oleh putra-putri beliau yang juga meneruskan profesi orang tuanya sebagai Notaris.

Darat

Di antara terminal yang melayani warga kota Medan adalah:

* Terminal Sambu
* Terminal Pinang Baris, terletak di kecamatan Medan Sunggal.
* Terminal Amplas

Tampak dua becak motor sedang melintas di jalanan Medan.

Keunikan Medan terletak pada becak bermotornya ("becak motor") yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa ("becak dayung"), becak motor dapat membawa penumpangnya ke hampir mana pun di dalam kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus (angkot/"oplet") dan taksi. Becak di Medan berbeda dengan becak di Jakarta ataupun di kota-kota Jawa lainnya. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak seperti di Jawa. Ini memudahkan becak Medan untuk melalui jalan yang berliku-liku. Selain itu, ini juga memungkinkan becak Medan untuk diproduksi dengan harga yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Design ini dikatakan mengambil design dari sepeda motor gandengan perang Jerman di perang dunia ke-2.

Akan tetapi bagi penduduk Medan, sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Angkutan umum ini (Sudako) pada awalnya menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya. Ongkosnya pun relatif murah, yaitu Rp 2.000 per 10 km untuk para pelajar, dan Rp 3.000 per km untuk penumpang umum.

Trayek yang pertama kali bagi sudako ini adalah Lin 01, (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl. Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini Daihatsu S38 500 cc sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia dan berganti dengan mobil-mobil baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther dan Daihatsu Zebra maupun Espass, yang sering disebut Jumbo, karena memuat penumpang lebih banyak. Istilahnya 68 (maksudnya 6 penumpang duduk di bagian kiri, 8 penumpang duduk di bagian kanan).

Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal dari India. Beroda 3 dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama Toyoko. Sekarang, Toyoko pun kabarnya akan digantikan dengan kendaraan baru yaitu Kancil.

Kereta api menghubungkan Medan dengan Tanjungpura di sebelah barat laut, Belawan di sebelah utara, dan Binjai-Tebing Tinggi-Pematang Siantar dan Tebing Tinggi-Kisaran-Rantau Prapat di tenggara.

Jalan tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Lubuk Pakam dan Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.

Laut

Pelabuhan Belawan terletak sekitar 20 km di utara kota.

Udara

Bandara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Banda Aceh , Padang , Pekanbaru , Batam , Palembang , Jakarta , Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alorstar di Malaysia, dan Singapura. Sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang sedang dalam pembangunan.

Stasiun televisi yang ada di Kota Medan antara lain adalah TVRI Medan, Deli TV, Space Toon dan DAAI TV saat ini juga telah mengudara dalam masa percobaan siaran televisi Bahana TV.

Karena memiliki nilai berita yang sangat tinggi, seluruh stasiun TV Swasta nasional memiliki koresponden juga biro di kota Medan. Stasiun TV yang mendirikan biro di kota ini adalah Metro TV dan akan menyusul stasiun TV lainnya. Metro TV bahkan secara khusus menempatkan mobil Satelitte News Gathering (SNG) agar dapat bergerak cepat dan realtime dalam menyiarkan berita dari kota Medan.

Pusat perbelanjaan

* Brastagi Plaza (sebelumnya dikenal dengan nama Mall The Club Store atau "Price Smart")
* Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza (di-merger menjadi satu dan akan segera direnovasi tahun 2008 dengan nama Deli Grand City)
* Grand Palladium
* Hong Kong Plaza - Hotel Soechi
* Macan Group Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah
* Makro
* Plaza Medan Fair
* Medan Mall
* Medan Plaza(Salah satu plaza tertua di Medan. Kendati dekat dengan Plaza Medan Fair namun masih bertahan. Plaza ini berhasil bertahan karena tetap mempertahankan tenant-tenant yang menyediakan beragam barang dan jasa yang ekonomis. Di Plaza ini terdapat grosir besar sepatu dan pakaian yang ekonomis tapi berkualitas)
* Millenium Plaza (pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama Tata Plaza namun akhirnya tutup karena sepi pengunjung. Tahun 1999 Tata Plaza berganti nama menjadi Millenium Plaza. Kali ini berhasil karena plaza ini berani segmented dalam membidik pasar, yakni Pasar Handphone. Millenium Plaza merupakan salah satu pusat penjualan Handphone terbesar dan teramai di luar Pulau Jawa)
* Perisai Plaza (Sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup pelan-pelan. Banyak tennant dan gerai yang hengkang. HIngga saat ini belum diketahui rencana selanjutnya plaza ini)
* Sun Plaza (Salah satu Plaza modern di awal era 2000. Menjadi pionir bagi munculnya plaza dan Mal baru di kota Medan. Plaza ini menjadi tempat ngumpul banyak orang, terutama kaum pelajar.)
* Thamrin Plaza
* Yuki Pasar Raya
* Yuki Simpang Raya
* Yanglim Plaza
* Olympia Plaza Plaza tertua di Medan, bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi sebagai pusat perbelanjaan modern. Olympia Plaza saat ini lebih sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah.

Pasar

* Pusat Pasar (Salah satu Pasar tradisional tua di Medan. Sudah ada sejak zaman kolonial. menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur)
* Pasar Petisah (Mengalami renovasi sejak tahun 2000. Pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasara tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas)
* Pasar Beruang
* Pasar Simpang Limun Salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi trade mark kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap penataan untuk mengatasi kemacetan lalulintas akibat kesibukan pasar ini.
* Pasar Ramai Pasar ini terletak di Jalan Thamrin yg bersebelahan dengan Thamrin Plaza.
* Pasar Simpang Melati Pasar ini terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jalan Pancing. Pasar Simpang Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan (Jumat malam, Sabtu dan Minggu).
* Pasar Ikan LamaMeskipun memiliki nama pasar ikan tetapi nyatanya tidak ada satu ekor ikan pun yang dijual di pasar ini. Pasar ini menjadi pemasaran tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.

Tempat jajan makanan

* Kesawan Square, sejak 16 Nopember 2007 ikon kuliner Medan ini sudah ditutup
* Merdeka Walk
* Deli River Cafe
* Jalan Semarang (Chinese Food)
* Jalan Pagaruyung (Indian Food)
* Ring Road Jalan Gagak Hitam/Setia Budi, pilihan berbagai resto dari mulai fast food (KFC, McD), jagung bakar (malam hari) dan aneka makanan Indonesia (bakso, sate, ayam penyet, nasi uduk dll) di sepanjang jalan
* Jalan Dr. Mansyur/kampus USU, pilihan berbagai cafe yang menawarkan beragam hidangan (Indonesia, Western, Chinese Food, dll) dengan design unik di masing-masing cafe


Olah raga

Beberapa klub olah raga yang terdapat di Medan antara lain PSMS Medan (sepak bola), Medan Jaya (sepak bola) dan Angsapura Sania (basket). Gelanggang olah raga yang terdapat di Medan antara lain Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga dan GOR Angsapura.
(gias)
Read On 0 komentar

Majalah Sobek Untuk Tugas Kliping

Selasa, Februari 10, 2009
Taman Bacaan yang bertetangga dengan Rumah Billiard

Medan _ (SEKOMED) Pernah dengar istilah “majalah sobek” kan..? Majalah yang isi halamannya disobek lalu dijual. Ini lah salah satu yang laris dibeli pelajar di Taman Bacaan Desa Medan Estate.

Majalah sobek sering dicari anak sekolah, umumnya yang sedang mengerjakan tugas kliping. Majalah sobek memudahkan pelajar dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Proses pembeliannya terbilang unik, karena pembeli terlebih dahulu memilih topik yang dicari dengan melihat rubrik yang ada dihalaman depan majalah. Setelah ditemukan, halaman yang berisikan topik yang dicari disobek, kemudian dibeli. Perlembarnya dijual pak Charles Rp.500-,00. “Contohnya, kamu mencari topik tentang lingkungan di Majalah Tempo. Lihat di daftar isi, yang halaman 96 ini mengenai lingkungan. Lalu kamu baca. Kalau cocok, kamu sobek halamannya,” jelas pak Charles kepada wartawan.

Selain majalah sobek, majalah bekas, tabloid, Koran bekas dan novel termasuk yang paling banyak dicari pengunjung. Untuk tabloid dan Koran bekas diberi harga rata-rata Rp.1000-,00. Sedangkan majalah bekas dan novel dihargai rata-rata Rp.15.000 – Rp. 20.000-,00. Namun untuk buku pelajaran, khususnya buku sejarah dan buku budaya masih sangat minim karena belum ada pemasok yang tetap. Ketika ditanya mengenai bantuan buku oleh pemerintah, pria berkumis tebal ini mengatakan belum mengajukan proposal kepada pemerintah. Selain minimnya buku bacaan, di taman bacaan, buku masih hanya bisa dibaca di tempat, pak Charles belum menyediakan jasa sewa buku dikarenakan kurangnya tenaga bantu.

Taman Bacaan Desa Medan Estate dibangun oleh pak Charles pada Januari 2008 yang lalu di jalan Selamat Ketaren. Letaknya, di sekitar Universitas Medan (UNIMED). Lebih tepatnya lagi diantara beberapa warung nasi dan rumah billiard yang berada di sisi sebelah kanan kampus UNIMED. Niatnya ini bermula atas keprihatinannya terhadap pelajar-pelajar yang tidak mampu membeli buku. “Karena tidak semua orang mampu membeli buku, makanya saya buka taman bacaan ini. Lagipula anak-anak sekolah dan mahasiswa di sekitar sini banyak yang senang membaca”.

Taman bacaan ini terlihat berantakan pada pagi itu. Kebetulan pemiliknya sedang memperbaiki pintu masuk yang sudah lapuk. Belum ada pengunjung pada saat itu. Hanya saja seorang guru sedang membeli buku pelajaran di toko yang juga milik pak Charles yang berada samping taman bacaan. Bu Riama Sirait, guru Biologi SMA 1 Percut membeli 4 buku Biologi terbitan Erlangga untuk dua orang anaknya. Dia sudah tiga tahun lamanya berlangganan di toko yang diberi nama Dorris ini. Bu Riama menceritakan, pernah suatu hari ia mengajak semua murid kelas X-1 sampai X-VII membaca dan membeli buku di sini. “Saat itu waktu pulang sekolah, semua murid saya ajak kemari.”

Taman bacaan yang berdindingkan papan dan beratapkan seng ini bertetangga dengan rumah-rumah billiard di sekitarnya. Suara-suara house musik dangdut menembus dinding-dinding papan taman bacaan. Ditambah lagi suara pukulan dan gulingan bola billiard menambah gaduh suasana. Namun menurut pak Charles, hal ini tidak menyurutkan minat baca pengunjung.
(ipan)
Read On 0 komentar

Kios Bang Sembiring, Walau Kecil Tidak Kalah Lengkap Dengan yang Lain

Selasa, Februari 10, 2009
MEDAN _ (SEKOMED) Di antara kios-kios yang ada di jalan Pancing khususnya yang menjual seragam tim sepak bola, ada satu kios kecil yang terletak di samping pintu masuk gedung bekas kantor Gubsu. Walaupun lebih kecil dari kios-kios lain, kios ini cukup lengkap menyediakan berbagai kostum tim sepak bola baik tim nasional maupun klub dari liga internasional dan liga lokal.

“Memang kios aku kecil, tapi kalau dibandingkan dengan kios lain soal kelengkapan aku gak kalah sama yang lain,” ujar si pemilik kios, Sembiring. Pria yang akrab dipanggil bang Sembiring ini mengatakan ia juga melayani pembelian dalam jumlah besar. “Kalau ada yang mau beli banyak, biasanya si pembeli pesan dulu. Misalnya hari ini dia datang, besok baru ada barangnya, karena aku gak bawa banyak barang ke sini. Mengingat kios ku kan kecil, ” jelas pria asal Berastagi ini.

Bang Sembiring mengaku baru 8 bulan berdagang seragam sepak bola di jalan Pancing tersebut. Biasanya dalam satu hari ia mendapat sekitar Rp 200.000. Namun pada waktu-waktu tertentu ia bisa mengumpulkan sampai Rp 700.000 per harinya. “Biasanya dapat Rp 200.000 satu harinya, tapi kalau pas ada even-even besar kayak Piala Dunia atau Piala Eropa, aku bisa dapat sampai Rp 700.000,” ungkapnya.

Bang Sembiring mengatakan pembelinya kebanyakan dari kalangan pelajar. Salah seorang pelajar SMA yang sedang melihat-lihat baju tim sepak bola di kios bang Sembiring bernama Rudi, mengaku sering membeli seragam sepak bola di situ. “Di sini harganya murah, ya pandai-pandai kita menawar lah. Bang Sembiring pun ramah sama pembeli, jadinya kan enak kita membeli,” ungkap pelajar kelas 3 ini. “Kalau di tempat lain harga matinya 25 ribu, di sini bisa 20 ribu untuk baju yang sama,” tambahnya. (gias)
Read On 0 komentar

Kampanye Flu Burung, KSR PMI Medan Melakukan Pelatihan dan Penyegaran Fasilitator Penanganan Flu Burung

Selasa, Februari 10, 2009

MEDAN _ (SEKOMED) Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Cabang Medan, Kamis (5/2) mengadakan acara penutupan Pelatihan dan Penyegaran Fasilitator Penanganan Flu Burung selama tiga hari dari tanggal 3 – 5 Februari 2009 di Hotel Bumi Malaya jalan Gatot Subroto km. 6 Komplek Tomang Elok Medan. Peserta pelatihan berasal dari KSR PMI ranting Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negri (IAIN) sebanyak 30 orang. Pelatihan juga ditujukan untuk merekrut relawan baru.

Salah seorang Satgas PMI Cabang Medan, Nurleli mengatakan, tujuan diadakannya program Pelatihan dan Penyegaran tersebut adalah untuk menyegarkan kembali para fasilitator agar dapat mensosialisasikan kepada masyarakat tentang penyakit avian influenza (flu burung) dengan baik. “Pelatihan dan Penyegaran kembali ini ditujukan kepada fasilitator-fasilitator agar dapat mensosialisasikan dan mengkampanyekan penyakit flu burung kepada masyarakat dengan baik.”

Nurleli yang sudah aktif bergabung di PMI dua tahun lamanya mengungkapkan “Sebelumnya kami juga telah mengadakan pelatihan yang sama pada April 2008, namun untuk yang kali ini dikhususkan untuk menyegarkan kembali peserta-peserta pelatihan atas materi yang pernah disampaikan, ” jelas Alumni Politeknik Negeri Medan ini.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sekretaris PMI Medan, Drg. Susyanto. “Sebagai manusia, ada sifat sombong, angkuh dan lupa. Untuk itulah dalam pelatihan kali ini para fasilitator diingatkan kembali bagaimana mengkampanyekan avian influenza ini kepada masyarakat.”

Drg. Susyanto menjelaskan, sasaran utama kempanye ini adalah peternak unggas, penjual daging unggas, serta masyarakat sebagai konsumen. “Fasilitator-fasilitator ini akan menyampaikan satu bentuk pesan kepada sasaran, yaitu peternak, penjual dan masyarakat agar tahu apa itu avian influenza dan dapat memilih unggas yang sehat, serta mengetahui bagaimana cara mengurus ternak yang sehat,” jelasnya yang ditemui usai acara pelatihan itu.

Ia menambahkan, masyarakat dalam hal ini dibagi menjadi 2 bagian, yang pertama homogen yaitu pelajar, dan heterogen yaitu masyarakat pada umumnya. Drg. Susyanto juga mengucapkan terima kasih kepada American Red Cross atas pendanaan kegiatan ini. “Saya mengucapkan terima kasih kepada American Red Cross yang menjadi donatur tunggal sehingga terselenggaranya program pelatihan ini,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini.

“PMI adalah kemitraan pemerintah. Karena itu saya akan merekomendasikan ke-30 fasilitator ini sebagai relawan di Dinas Kesehatan. Saya juga akan mengajukan kepada pemerintah daerah untuk mengeluarkan dana dari APBD untuk pelaksanaan program pelatihan ini jika American Red Cross sudah tidak membiayai program ini lagi,” tutupnya.

Salah satu peserta pelatihan, Mutiara mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat baginya. “Bagi saya pribadi, pelatihan ini sangat bermanfaat. Karena ingatan saya disegarkan kembali dengan materi-materi yang mudah dipahami guna mengkampanyekan flu burung kepada masyarakat,” jelas mahasiswi IAIN jurusan tarbiyah yang biasa disapa Mutia.

Mutia juga mengungkapkan bahwa setelah pelatihan ini, mereka para fasilitator akan langsung terjun ke kecamatan-kecamatan yang sudah ditentukan. “Kami memperoleh kabar, daerah yang banyak terdapat kasus flu burung adalah daerah kecamatan Medan Tembung. Jadi kemungkinan kami akan ke sana,” jelas gadis yang sudah bergabung dengan PMI sejak 2005. “Daerah yang sudah kami datangi adalah Kecamatan Medan Amplas, Polonia dan Medan Johor,” tambahnya.

Narasumber dalam pelatihan tersebut yaitu Bambang Guntoro (Staf Program), M. Riswandi (Trainner), dan M. Yasir (Trainner). Ketiganya merupakan relawan PMI Daerah Sumatera Utara yang ikut membantu para satgas untuk membimbing para fasilitator agar dapat mensosialisasikan kampanye flu burung tepat sasaran.
(gias/ipan)

Read On 0 komentar

Baliho dan Poster Parpol bingungkan Masyarakat

Selasa, Februari 10, 2009
MEDAN _ (SEKOMED) Jelang pemilu 2009 ini, pemasangan baliho-baliho dan poster-poster caleg dari berbagai parpol (partai politik) yang menjamur di setiap sudut kota Medan menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat.

Foto-foto calon wakil rakyat dari setiap partai berserakan di mana-mana. Papan iklan, tiang-tiang listrik, bangunan-bangunan, pepohonan, bahkan angkutan umum pun tak luput dijadikan tempat untuk memasang dan menempel poster dan baliho tersebut. “Pening kepalaku lihat poster caleg-caleg ini, buat semak jalan aja,” Keluh seorang pedagang buah di daerah Marelan Ibul,40, kepada SINDO kemarin. lelaki bersuku melayu ini mengaku bingung dan pusing dengan begitu banyaknya poster dan baliho yang terpajang di sepanjang jalan Kapt. Rahmad Budin, Marelan. “Entah yang mana yang mau dipilih. Buat bingung rakyat aja,” tambahnya.

Pada dasarnya pemasangan baliho dan poster tersebut tentunya untuk sosialisasi dan kampanye setiap parpol kepada masyarakat, agar masyarakat tahu dan mengenal calon-calon wakil rakyat yang akan mereka pilih pada saat pemilu legislatif nanti. Dan memudahkan masyarakat menentukan pilihannya. Namun belakangan cara seperti ini justru membuat banyak masyarakat bingung, antara lain karena mereka Cuma tahu fotonya saja, tapi tidak mengenal dan mengetahui profil lengkap mereka. “gimana Negara ini mau maju, calon wakil rakyatnya saja pun tak dikenal rakyat, kalau Cuma majang-majangi foto dipinggir jalan gitu, aku pun bisa pura-pura jadi caleg, kutempelkan aja fotoku dipohon atau ditiang listrik,” ujar Zainul,23, seorang karyawan pabrik di daerah KIM (Kawasan Industri Medan) Mabar kemarin. dia mengaku tidak mengenal satu orang pun dari sekian banyaknya foto-foto caleg yang terpampang di setiap sudut jalan tersebut. “ Jangan-jangan yang awak pilih nanti koruptor pula’, tambah susahlah kita nanti,” imbuhnya. Penuturannya mengingatkan kita pada sebuah pepatah “Ibarat membeli kucing dalam karung.” (munir)




Read On 0 komentar

Ongkos Belum Turun Penumpang Cuek

Selasa, Februari 10, 2009
MEDAN _ (SEKOMED) Penurunan tarif angkutan umum di kota Medan sampai saat ini belum menyeluruh, masih banyak supir angkutan umum yang tetap menggunakan tarif lama sebelum harga BBM turun, dan masih banyak pula pengguna jasa angkutan umum yang tidak peduli akan hal itu.

Seorang supir angkutan umum trayek Belawan-Hamparan Perak Adek (25), mengatakan kalau tarif ongkos masih seperti biasa. “Memang ongkos masih macam dulu kubuat, lagian gak ada disuruh tokeh turunkan ongkos, tapi kalau penumpangnya minta kembalian ya kukasi juga, tergantung sewa aja, kadang ada juga sewa yang pengertian.” Ujarnya. Pria beranak satu ini terkesan tidak begitu peduli dengan penurunan tarif angkutan umum. Baginya sah-sah saja selagi tidak ada yang merasa dirugikan.

Namun sayangnya belum turunnya tarif ini disikapi dengan santai saja oleh sebagian masyarakat. Seolah mereka tidak merasa dirugikan dalam hal ini. Seorang guru Sekolah Dasar di Labuhan Muhibbah (50), mengaku tetap memberi ongkos seperti sebelum harga BBM turun. “Saya masih bayar Rp4.000 dari titi payung ke Simpang Kantor, tapi terkadang kalau saya bayar Rp3.500 supirnya diam aja,” kata ibu berjilbab ini. “Kalau memang ongkos turun, Seharusnya di setiap angkot ditempel pengumuman penurunan tarif, jadi sewa tahu berapa yang seharusnya dibayar,” sarannya.

“Malas saya minta kembaliannya, karena sudah biasa bayar Rp3.000,” ujar seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri di Medan Wina (20). Wanita yang sehari-harinya naik angkutan umum dari K. Lalang ke Jl. Setia Budi ini mengaku tidak terlalu ambil pusing masalah ongkos.
Seharusnya penurunan tarif angkutan umum ini betul-betul dilaksanakan oleh semua unit angkutan umum secara menyeluruh. Tentunya hal ini akan terlaksana dengan adanya kesadaran dari setiap elemen yang terkait di dalamnya, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa angkutan umum, jangan bersikap acuh tak tak acuh seolah merasa tidak dirugikan dengan tarif angkutan umum yang tidak diturunkan. (munir)
Read On 0 komentar

Ayam Kinantan Butuh Kandang

Selasa, Februari 10, 2009
Medan _ (SEKOMED) Yoo..ayooo…ayooo PSMS… kuyakin kita pasti menang...!!
Yel-yel seperti ini selalu membahana di segenap penjuru tribun penonton setiap kali PSMS berlaga di stadion kebanggaan Teladan. Teriakan yang menjadi penambah semangat dan motivasi ketika si Ayam Kinantan menghadapi lawan-lawan mereka, jerit semangat yang cukup membuat ciut nyali setiap tim yang akan dijamu oleh pasukan Ayam kinantan. Tapi itu semua hanya sepenggal kenangan indah masa lalu, ketika PSMS masih bertaji di jagat persepakbolaan nasional, ketika ayam kinantan masih berlaga di kandangnya angkernya Teladan.

Seorang pecinta sepakbola Medan Indra (20), merasa geram dengan kondisi PSMS sekarang ini, “Pasti sulitlah menang kalau gak pernah main di kandang sendiri, sudah macam musafir PSMS itu, tiap kali main selalu ganti kandang,” ucapnya dengan nada geram. Pemuda kurus tinggi yang bekerja sebagai tukang parker di kawasan mesjid Agung ini terlihat sangat tidak senang dengan kondisi PSMS saat ini. “Kalau terus macam ini, beratlah bertahan di liga super. Macam kehilangan separuh nyawa, pasti nggak enak kan?” keluhnya sambil menghela nafas.

Kondisi PSMS sekarang memang cukup menghawatirkan, renovasi stadion teladan yang tak juga terlaksana sampai saat ini, membuat si Ayam Kinantan terpaksa menjadi tim nomaden yang selalu berpindah-pindah setia kali akan bertanding di liga super. Walaupun bertindak sebagai tuan rumah, namun sebenarnya setiap laga kandang yang dilakukan PSMS adalah laga netral. Karena tidak ada supporter setia yang mendukukng perjuangan mereka seperti di Teladan. Kondisi seperti itu tentu saja secara otomatis akan mempengaruhi kondisi tim secara keseluruhan, termasuk kondisi keuangan tim yang tentunya akan lebih banyak pengeluaran dalam setiap pertandingan.

“Bisa-bisa PSMS bangkrut kalau terus seperti ini, pasti butuh biaya yang banyak setiap kali jadi tuan rumah di stadion orang, kan lebih baik stadion teladan direnovasi aja,” ungkap Amar (22), seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. Pemuda penggemar olahraga futsal ini sangat menyayangi kondisi PSMS yang tak kunjung membaik hingga bergulirnya putaran kedua liga super ini. “Aku rasa posisi PSMS di klasemen nggak akan berubah kalau kondisinya terus-terusan begini, karena menurutku nggak mungkin pemain semangat bertanding kalau gak ada supporter yang menonton dan mendukung. Kalau sudah tidak ada motivasi dan semangat bertanding, pasti hasil buruk yang yan diraih,” tambahnya dengan sedikit menganalisis.

Hal-hal di atas memang belum cukup mewakili keresahan pecinta Ayam Kinantan di seluruh penjuru Medan, yang merasa jenuh dan kasihan akan kondisi tim kesayangan mereka. Semoga kedepannya semua pihak yang bertanggung jawab atas PSMS bergerak cepat dan sigap dalam memperbaiki kondisi PSMS saat ini. Tentunya seluruh pecinta sepakbola Medan sangat mengharapkan perubahan demi kemajuan dan kembalinya kejayaan Ayam Kinantan seperti dulu kala. Ayo PSMS! (munir)

Read On 0 komentar

Jelang UAN Pasar Buku Ramai dikunjungi Pelajar

Selasa, Februari 10, 2009
MEDAN _ (SEKOMED) Pasar Buku di area Lapangan Merdeka Medan sekarang ini sedang ramai dikunjungi oleh anak-anak sekolah SD, SMP, dan SMA, khususnya yang sudah kelas 3 di masing-masing tingkatan.

Hal itu dikarenakan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir nasional (UAN). Salah seorang pedagang buku di lokasi itu bernama Manik mengatakan, buku-buku pendidikan seperti buku panduan UAN, sifatnya musiman. Artinya, buku-buku tersebut ada pada waktu tertentu. “ Kalau buku UAN, biasanya ada bulan-bulan sekarang inilah,” jelas ibu 3 orang anak ini.

“Disini harga buku UAN gak semahal di toko-toko buku kayak gramedia. Padahal dari penerbit yang sama,” ujar seorang siswa kelas 3 SMA bernama Soraya. “Saya juga nyari novel bang, disini juga murah,” tambah gadis yang biasa dipanggil Aya ini.

Bu Manik mengatakan, selain buku-buku UAN, banyak juga pelajar yang mencari novel yang sedang popular saat ini. “Sekarang ini novel yang laris itu seperti novel trilogi Laskar Pelangi,” jelasnya. Ia mengungkapkan dalam satu harinya, ia dapat menjual lebih dari 50 buah novel.

Kios buku bu Manik, begitu sapaannya, terlihat berbeda dari kios-kios lain. Kios bukunya terdapat kelompok-kelompok buku sesuai harganya masing-masing. “Saya dapat ide untuk mengkelompokan buku-buku ini, agar pembeli lebih gampang memilih buku yang diinginkan. Juga supaya saya gak capek menjelaskan harganya kepada pembeli,” jelas wanita berkaca mata itu. Bu Manik mengatakan ia menyewa kios di pasar buah dengan ongkos sewa sebesar Rp 3 juta per 3 tahun

Selain itu, bu Manik juga memberikan discount sebesar 20 % untuk jenis buku komputer dan ia memberikan hadiah buku komik sebesar Rp. 50.000 bagi setiap pembelian buku komputer sebesar Rp. 100.000.

Bu Manik mengaku baru 3 tahun menjadi pedagang buku. Dengan berprofesi sebagai pedagang buku, keuntungan yang dihasilkan dapat mencapai Rp15 juta per bulan. Bu Manik mulai berjualan pukul 10.30 WIB sampai pukul 06.00 WIB setiap hari Senin – Sabtu. Sementara pada hari Minggu ia gunakan waktu luang untuk beribadah di Gereja dan berkumpul bersama anggota keluarga. (gias)
Read On 0 komentar

Ketika Tukang Kue Pancung Bicara Pemilu

Selasa, Februari 10, 2009
Medan _ (SEKOMED) Pemilu 2009 semakin dekat, berbagai partai politik dengan beragam visi dan misi berlomba-lomba mencari simpati rakyat. Hal itu tentunya lumrah setiap kali pemilu akan dilaksanakan. Berbagai opini pun bermunculan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat kalangan atas, sampai kalangan bawah punya opini tersendiri tentang pemilu yang akan segera berlangsung.

Seperti Wak Lobe (63), warga Desa Klumpang Hamparan Perak yang sehari-harinya berprofesi sebagai penjual kue pancung ini punya opini sendiri tentang pemilu. Ketika ditanyai mengenai tanggapannya tentang pemilu 2009 pagi tadi (10/2). “ Sebetulnya gak ada bedanya dengan pemilu yang udah lewat, banyak kali partai buat kepala kita pening aja mau piilh yang mana,” ujarnya sambil membolak-balik kue pancung di atas penggorengan. Apa yang dikeluhkannya mungkin saja mewakili keluhan banyak warga lainnya yang berpikiran serupa.
Ketika ditanyai tentang peluang parpol mana yang berpeluang besar memenangi pemilu kali ini, dengan santai pria hitam kurus ini mengatakan, “ menurutku SBY pasti tetap yang terkuat, apalagi langkah-langkahnya menjelang pemilu ini semakin menaikkan pamornya di masyarakat, seperti diturunkannya harga BBM sampai Rp 4.500 per liter. Aku yakin masyarakat pasti milih dia lagi” Duda berambut putih yang memiliki 3 anak, dan 7 orang cucu ini sepertinya begitu memfavoritkan SBY, hal itu terlihat dari ocehannya yang selalu memuja presidan RI itu. Bahkan di bagian depan gerobak kue pancungnya tertempel stiker kecil partai demokrat.

“ Mungkin Megawati dengan PDIPnya, atau Hidayat Nur Wahid dengan PKSnya bisa jadi pesaing terberat SBY dalam pemilu 2009 ini. Tapi bisa juga banyak partai kecil yang bergabung dengan partai besar untuk menggulingkan SBY, karena partai-partai baru sekarang ini pun punya tokoh yang sudah tidak asing di dunia politik, seperti Prabowo di GERINDRA, Wiranto di HANURA, Sutiyoso di PIS, dan lain-lain” tambah kakek energik ini dengan menyatakan kemungkinan koalisi beberapa partai, ternyata pengetahuannya tentang politik lumayan juga.
Sambil menghisap rokok kreteknya, kakek yang sudah 5 tahun menduda ini mengatakan betapa sulitnya memilih pemimpin yang betul-betul cocok, karena rakyat kebanyakan tidak tahu banyak tentang profil para calon pemimpin mereka, mungkin juga rakyat sudah malas dan tidak begitu peduli memilih pemimpin, karena merasa sering dikecewakan oleh para pemimpin yang biasanya hanya mengumbar janji-janji saja, tanpa adanya relisasi dari janji palsunya tersebut. “nanti kalau sudah di atas, tak ingat dia lagi menginjak bumi,” katanya dengan sedikit berfilosofi.
Di akhir wawancara, pria tua ini berharap semoga kedepannya bangsa ini tidak lagi susah dalam segala hal, mulai dari lowongan pekerjaan, biaya pendidikan yang murah, dan harga sembako yang terjangkau, semuanya demi kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat kecil yang sering merasa diberlakukan tidak adil oleh pemerintah.

“ Aku sudah tua, gak banyak lagi yang kuharapkan dari negara ini, mungkin umurku paling lama 10 tahunan laginya, doaku semoga anak-anak dan cucu-cucuku nanti bisa hidup lebih layak dari aku sekarang,” ujarnya sambil menggaruk rambut putihnya yang kusut karena lobe yang dipakainya seharian.

Sepertinya apa yang disampaikan Wak Lobe juga merupakan keluhan dan tentunya harapan banyak rakyat lain yang bernasib serupa di negara tercinta ini. Dan harapan kita tentunya pemilu 2009 ini menjadi momentum kebangkitan Republik Indonesia. (munir)
Read On 0 komentar

Rubrik

Followers


Wall Street Journal